Ko No ”Tolak” Gambar dari Warga Inggris, Alwi Jadikan Souvenir di Amerika

Cerita Orang Ternate di Balik Proses dan ”Pesona” Uang Seribu Rupiah

Ir. Abubakar Baay, SE, MBA, sosok di balik proses pembuatan gambar Pulau Maitara dan Tidore pada uang kertas seribu rupiah. (foto: istimewa)

Uang seribu rupiah bergambar Pattimura (depan) dan Pulau Maitara dan Tidore sudah 21 tahun beredar. Uang seri pahlawan itu nyaris kadaluarsa karena ada cetakan seri baru bergambar Tjut Mutia (depan) dan Pulau Banda Naira (belakang). Meski sudah lama, ada cerita orang Ternate di balik uang kertas seribu rupiah lama ini yang belum terungkap.

ISMIT ALKATIRI, Ternate

KETIKA Pemerintah melalui Bank Indonesia menerbitkan uang kertas seri pahlawan pada tahun 2000, ada kebanggaan tersendiri bagi orang Maluku Utara. Betapa tidak, di sisi belakang uang kertas tersebut bergambar Pulau Maitara dan Tidore.

Masuknya gambar yang terkait dengan satu daerah di alat tukar merupakan hal yang langka. Tak heran, ketika uang kertas seribu rupiah cetakan tahun 2000 tersebut beredar, warga Maluku Utara ramai-ramai mengoleksinya. Apalagi bersamaan dengan eforia provinsi yang baru dimekarkan. Bisa dibayangkan, jika saat itu sudah ada teknologi informasi yang massal, bisa jadi gambar tersebut akan memenuhi postingan warga Malut di media sosial.

Uang kertas seribu rupiah seri pahlawan yang diedarkan tahun 2000 dengan gambar Pulau Maitara dan Tidore di sisi belakang. (foto: istimewa)

Meski sudah 21 tahun, banyak orang yang tidak tahu cerita di balik proses dan “pesona” uang seribu bergambar Pulau Maitara dan Tidore tersebut. Padahal, ada sosok orang Ternate yang berperan penting hadirnya gambar tersebut di uang seribu rupiah itu.

Ceritanya, pada tahun 2000, Bank Indonesia akan menerbitkan uang kertas seri pahlawan. Di antaranya adalah uang kertas seribu rupiah bergambar pahlawan Pattimura, asal Maluku. Ketika itu, pihak Bank Indonesia mendatangi Perusahaan Umum Percetakan Uang Republik Indonesia (Perum Peruri) dan membawa sebuah buku yang di dalamnya ada gambar Pulau Maitara hasil foto warga Inggris. Melihat hal itu, Ir Abubakar Baay, SE, MBA, Direktur Produksi Perum Peruri,  menyarankan untuk membuat gambar baru daripada harus memproses izin penggunaan gambar dari fotografer Inggris tersebut.

“Ternyata, pihak Bank Indonesia setuju. Saya dan tim fotografer langsung terbang ke Ternate,” tuturnya ketika diwawancarai malutpost.id Selasa (23/11) kemarin.

Ko No, sapaan akrab Abubakar Baay yang asal Ternate itu merasa terpanggil untuk menghasilkan gambar yang lebih bagus dan original untuk uang seribu rupiah tersebut. ”Sebagai orang Ternate, saya bangga karena pemandangan itu gambarnya diambil dari Pulau Ternate,” katanya.

Monumen Uang Seribu Rupiah dibangun di Pulau Maitara. (foto: istimewa)

Setelah tiba di Ternate, pada tahun itu, Ko No lalu mencari titik ideal untuk memperoleh gambar yang bagus. Ketika itu, dia mengambil posisi dari Pantai Fitu, Ternate Selatan. Hanya saja,ketika berada di pantai, tidak lagi terlihat perahu di perairan. ”Waktu itu ada dua warga Fitu yang baru kembali melaut dengan perahu nelayannya. Saya meminta mereka untuk kembali ke tengah laut. Mereka setuju dan Alhamdulillah, gambar itu jadi. Pihak Bank Indonesia menyetujui dan muncullah gambar tersebut di uang seribu rupiah,” kata pria yang masa mudanya tinggal di Santiong, samping rumah yang pernah ditempati Alfred Russel Wallace.

Bagi Ko No, gambar Pulau Maitara dan Tidore yang diambil dari Pantai Ternate memiliki nilai penting, terutama promosi pesona alam Maluku Utara. Karena itu, sebagai orang Ternate yang juga Direktur Produksi Perum Peruri, dia merasa  bangga dengan gambar tersebut di uang kertas.

Gaung bersambut. Cerita di balik produksi uang kertas seribu rupiah ini juga diapresiasi warga Ternate. Sejumlah industri pariwisata seperti hotel dan restoran di Ternate memajang gambar uang kertas tersebut.

Tak hanya itu, pesona uang seribu rupiah ini pun dijadikan souvenir. Alwi Sagaf Alhadar, seorang warga Ternate bahkan membawa seratus lembar uang seribu rupiah bergambar Pulau Maitara dan Tidore ke Amerika Serikat. Ceritanya, pada 2006 silam, Alwi diundang Pemerintah Amerika Serikat mengikuti program Civil Human Right dengan mengunjungi 10 negara bagian.

Alwi Sagaf Alhadar, warga Ternate yang pada tahun 2016 membawa uang kertas pecahan seribu rupiah sebagai souvenir. (foto: istimewa)

Saat Saat pertama tiba di Kota Chicago, negara bagian Illionis, Alwi mencairkan travel check untuk biaya hidup selama 1 bulan di Amerika. ”Setelah menerima uang itu di salah satu bank di Chicago, saya kemudian memberikan 3 petugas teller masing-masing selembar uang seribu rupiah. Mereka terkejut dan menolak dengan alasan tidak boleh sogok. Tapi saya berusaha meyakinkan mereka; ini hanyalah souvenir dan menjelaskan gambar di uang kertas seribu rupiah ini adalah tempat kelahiran saya,” ujar Alwi kepada petugas bank tersebut.

Menurut Alwi, mereka kagum mendengarkan penjelasannya. Kata mereka,  cover uang Amerika hanya bergambar para pendiri Negara. Sementara cover uang Indonesia bisa bergambar tempat Anda dilahirkan. ”Suatu saat kelak kami akan berkunjung ke sana,” ujar Alwi menirukan respon petugas bank tersebut.

Cerita orang Ternate tentang proses dan pesona uang seribu rupiah bergambar Pulau Maitara dan Tidore ini bisa menjadi spirit bagi pemerintah daerah untuk menggenjot potensi kearifan lokal; keindahan alam dan budaya untuk mensejahterakan rakyat melalui sektor kepariwisataan.(*)

Kolom Komentar
CATEGORIES
TAGS
×

Powered by WhatsApp Chat

×
%d bloggers like this:
Enable Notifications    OK No thanks