Proyek Talud Diduga Milik Anggota DPRD Malut Bongkar Terumbu Karang jadi Material

Proyek talud penahan ombak di Desa Samo, Halsel menggunakan terumbu karang. (Dok: Warga for malutpost.id)

Labuha, malutpost.id — Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Bidang Cipta Karya, Provinsi Maluku Utara yang membangun talud penahan ombak di Desa Samo, Kecamatan Gane Barat Utara menggunakan batu karang sebagai material.

Batu karang itu dibongkar di laut yang tak jauh dari proyek tersebut.

Informasi yang dihimpun di lapangan menyebutkan, ada sekira 200 kubik batu karang yang diambil dari laut untuk keperluan pembangunan tersebut.

Arsyad Hasyim tokoh masyarakat Samo via telpon dari Samo Minggu (21/11) menyebutkan, saat ini pembangunan tengah berlangsung dan proses pengambilan terumbu karang masih terus terjadi.

Dia bilang sangat mengherankan proyek pemerintah tapi tidak mengambil material yang layak malah membongkar terumbu karang padahal dilindungi sebagai tempat hidup dan bertelurnya ikan.

“Yang sudah diambil dan digunakan itu kurang lebih 200 kubik terumbu karang. Banyaknya terumbu karang yang diambil akhirnya habis,”kata Arsyad.

Saat ini proses pengambilan terumbu karang mulai beralih ke tempat lain tak jauh dari desa tersebut.

Dia berujar, memang proyek ini untuk kampung tetapi tidak harus menghancurkan terumbu karang. Pasalnya, ada jenis batu yang masih layak misalnya batu kali atau batu pantai.

Karena masalah ini Badan Hidup Provinsi Malut maupun Kabupaten Halmahera Selatan agar segera turun tangan mengatasi masalah ini.

“Jika dibiarkan perusakan terumbu karang akan atas nama masyarakat meminta perhatian Dinas Lingkungan terus meluas,”tambahnya.

Berdasarkan informasi yang diperoleh melalui papan proyek yang dipasang di lokasi tersebut menyebutkan bahwa proyek dengan nomor kontrak 600.640/SP/DPUPR –MU/CK/APBD/Fisik-BG Lingk-26/2021 di Desa Samo itu nilai kontraknya mencapai Rp 642,235.300 bersumber dari APBD tahun 2021 selama 68 hari kalender atau dua bulan lebih.

Pelaksana proyek ini adalah CV Herawati Pratama. Berdasarkan informasi yang dihimpun dari warga menyebutkan bahwa proyek ini milik salah satu anggota DPRD Provinsi Maluku Utara.

Warga lainnya yang menghubungi media ini menyebutkan pengambilan terumbu karang ini dilakukan warga dan dibeli oleh kontraktor karena berada tidak jauh dari lokasi proyek.

Di satu sisi membangun talud penahan ombak tapi di sisi yang lain merusak terumbu karang di laut. Ini yang menurutnya sangat disesalkan. Karena masalah ini dia meminta ada perhatian dari pemerintah daerah baik dinas lingkungan hidup maupun DPRD Halmahera Selatan dan Provinsi Maluku Urara.

“Ini masalah serius yang perlu disikapi segera secara baik. Jika tidak ke depan dampaknya lebih parah lagi,” jelasnya.
Dekan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Provinsi Maluku Utara Dr Janib Ahmad bilang terumbu karang itu ekosintem penting di lingkungan perairan. Karena itu keberadaannya harus dilestarikan.
Dia bilang lagi jika sudah ada penghancuran seperti ini proses pembentukan sebuah koloni kembali memakan waktu sangat lama. Untuk bisa membentuk suatu ekosistem terumbu karang akan memakan waktu sampai ribuan tahun. Walaupun terlihat sangat kokoh, karang sebenarnya sangat rapuh dan mudah hancur.
Dia bilang manfaat utama ekosistem terumbu karang sangat luar biasa terutama menjadi tempat tinggal ribuan biota dan tumbuhan yang banyak dan memiliki nilai ekonomi tinggi.

“Berbagai jenis biota mencari makan dan berlindung di ekosistem ini. Karena itu nelayan sangat bergantung sepenuhnya pada ekosistem terumbu karang sebagai sumber mata pencaharian. Keberadaan ikan dan biota ekonomis penting lainnya sangat tergantung pada terumbu karang. Jika sudah dirusak seperti ini maka tidak ada lagi yang bisa diharapkan,”jelasnya.(ikh)

 

 

Laporan: Ikram Salim

Kolom Komentar
CATEGORIES
TAGS
×

Powered by WhatsApp Chat

×
%d bloggers like this:
Enable Notifications    OK No thanks