Mengolah Sagu; Cara Kampung Indomut Bacan Merawat Tradisi

Tanaman sagu sebagau sumber pangan masih banyak terdapat di Bacan, Halmahera Selatan.

Bacan, malutpost.id – Indomut merupakan salah satu desa di Kecamatan Bacan, Halmahera Selatan (Halsel) yang masih kuat menjaga tradisi. Meski letaknya agak jauh dari pusat Kesultanan Bacan, namun masyarakatnya yang homogen itu cukup konsisten merawat tradisi dan warisan kebudayaan, termasuk bahasa Bacan yang terancam punah.

Kampung Indomut juga merupakan sentra produksi kerajinan tradisional dari bahan alami, seperti nyiru, tikar, tudung saji, tolu (topi petani) dan sebagainya. Belakangan, produk kebutuhan rumah tangga itu hilang dari pasaran akibat maraknya produk instan hasil pabrikan. Satu-satunya yang terjaga adalah produksi sagu (Metroxylon sagu Rottb.), bahan pangan yang banyak dikonsumsi masyarakat pedesaan di kawasan timur Indonesia.

Jafar, petani Desa Indomut yang konsisten memproduksi sagu.

Pengolahan tepung sagu di kampung yang jarak tempuhnya 6 Km dari ibukota Halsel itu juga mulai terjadi pergeseran. Dahulu, pohon sagu ditebang dengan kapak. Kini, petani Indomut sudah menggunakan mesin senso. Teras atau isi pohon sagu yang lunak biasanya diolah menggunakan alat tradisional dengan sebutan bahalo, sudah digantikan dengan mesin parut. Namun, cara pengolahan tepung sagu masih tetap dengan pola tradisional.

Baca:  Mantan ”Perdana Menteri” Kesultanan Bacan Wafat, Dimakamkan Hari Ini

Dari perjalanan weekend malutpost.id, Sabtu (18/9/2021) kemarin, proses pembuatan tepung sagu di Kampung Indomut menjadi salah satu dari potret kehidupan masyarakat pedesaan untuk memenuhi kebutuhan pangan.

Goti, teknik endapkan tepung sagu secara tradisional di Kampung Indomut.

Pohon sagu yang ditebang biasanya berukuran tinggi 5 sampai 6 meter. Setelah ditebang dan dibersihkan dari pelepah, batang pohon dibelah dua. Teras sagu atau isi pohon sagu diambil dan bentuk bongkahan dan dihaluskan dengan menggunakan mesin parut.

Setelah halus, teras sagu tersebut dimasukkan ke paramasang (alat perasan tepung sagu yang terbuat dari serabut pohon sagu). Paramasang berfungsi untuk menapis teras sagu yang kasar setelah diberi air yang langsung diambil dari sungai. Dari paramasang itu akan keluar air berwarna kecoklat-coklatan dan langsung mengalir ke goti (penampungan air perasan sagu).

Tumang, tepung sagu basah hasil endapan dari goti.

Di wadah goti itu nantinya mengendap tepung sagu setelah dibiarkan beberapa hari. Bagian atas goti berupa air akan dibuang dan petani mengambil tepung sagu yang dikenal dengan istilah tumang (tepung sagu yang masih basah). Tumang merupakan bahan mentah sagu yang dikemas dalam wadah dari daun sagu untuk dijual atau kebutuhan konsumsi keluarga.

Baca:  Begini Penampakan Gunung Sampah di Halmahera Selatan

Jafar, salah seorang petani pengolah sagu di Desa Indomut mengatakan, dalam satu kali produksi, dia membutuhkan 3 pohon sagu untuk diolah menjadi tepung sagu. Rata-rata, 1 pohon sagu bisa menghasilkan 3 sampai 4 tumang. Sementara 1 tumang sagu dijual dengan harga Rp150 ribu. Artinya, dalam sekali produksi petani bisa meraih pendapatan sebesar lebih kurang Rp1,5 juta.

Sagu lempeng yang siap dikonsumsi..

Produksi tepung sagu tersebut dibeli oleh pengolah sagu dan penjual sagu tumang. Pengolah sagu biasanya mengeringkan tepung sagu melalui sinar matahari dan dijadikan sebagai bahan makanan dalam bentuk lempengan (dipanggang), atau diolah sebagai bahan baku dalam bentuk tepung atau serbuk yang dikenal dengan sebutan sagubi.

Sementara sebagian pembeli tumang akan menjual kembali di pasar dalam bentuk tepung sagu yang masih basah. Bahan ini biasanya dijadikan popeda  (bubur sagu).

Baca:  Hikayat Kali Inggoi, Halmahera Selatan; Dulu 'Beri Makan' Warga Amasing, sekarang Hitam dan Bau

Rata-rata produksi tepung sagu yang dihasilkan petani Desa Indomut terserap dalam kampung yang banyak terdapat rumah industri pangan tradisional. Hasil olahahan sagu Kampung Indomut selain dibeli masyarakat juga dijual ke beberapa pasar di Bacan.(k01)

 

 

 

Laporan: Maulana Djamal Syah

Editor: Ismit Alkatiri

Kolom Komentar
CATEGORIES
TAGS
×

Powered by WhatsApp Chat

×
%d bloggers like this:
Enable Notifications    OK No thanks