Ketahanan Pangan di Ternate Terancam Akibat Alih Fungsi Lahan, Ini Respon Pemkot Ternate

Kadis Pertanian Kota Ternate, Thamrin Marsaoly 

Ternate, malutpost.id — Alih fungsi lahan terus terjadi di Ternate, Maluku Utara. Kawasan yang dulunya adalah lahan pertanian terus menyusut dan berganti menjadi nonpertanian atau kompleks pemukiman masyarakat.

Laju peralihan lahan memaksa Dinas Pertanian Kota Ternate mengambil langkah tegas dengan ‘mengklapling’ 50-an hektare lahan di Ternate.

Kepala Dinas Pertanian Kota Ternate, Thamrin Marsaoly mengatakan, pemerintah saat ini mulai melakukan upaya pencegahan dengan memperhatikan daya dukung lahan yang ada melalui regulasi yang memperhatikan semua faktor termasuk ekologi.

“Minimal kita punya peraturan daerah LP2B (Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan.Red),”jelas Thamrin kepada malutpost.id, Jumat (17/9/2021).

Thamrin memaparkan, hasil pendataan Distan ada sekitar 50-an hektare lahan di Ternate yang tidak bisa dikonversikan diluar peruntukan pertanian. Lahan tersebut akan diikat melalui regulasi yang tengah digodok pemerintah saat ini.

Baca:  Warga Dilarang Nonton Upacara HUT RI ke-76 di Ternate

“Jika ada perambahan hutan tentunya akan berdampak pada cadangan air tanah di Ternate, makanya kita harus batasi alih fungsi lahan,”papar mantan Kadis Kominfo dan Persandian Kota Ternate ini.

Adapun ketentuan yang dibangun dalam perda dimaksudkan agar bidang-bidang lahan tertentu hanya bisa digunakan aktivitas pertanian juga perkebunan. Hasil kajian dan pemetaan wilayah, terdapat beberapa kecamatan yang menjadi fokus untuk pengembangan tanaman pangan lokal, seperti di Ternate Barat, Moti dan Hiri

Dia juga mendorong Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kota Ternate untuk menata kembali RTBL atau Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan.

Sebab, kata Thamrin, faktor utama penyusutan lahan pertanian di Ternate ialah pemukiman warga yang terus merembet ke lereng gunung. Dalam kasusnya, perambahan pemukiman juga diikuti dengan proyek jalan tani.

Baca:  Warga Ngade Datangi Pelaku, Polsek Pulau Ternate Dalami Aksi Pencurian Kambing

“Lahan yang berada di atas ketinggian 200 MDPL ini sudah masuk hutan lindung ini tidak bisa pemanfaatan pangan. Perkebunan iya, karena ini akan merubah struktur wilayah dan ekologis akan terganggu, semisal di taman Moya itu kan seharusnya tidak bisa bangun rumah tapi karena ada tempat wisata di sana orang sudah mulai bangun rumah,”pungkasnya.(ikh)

 

_

Laporan: Ikram Salim

Kolom Komentar
CATEGORIES
TAGS
×

Powered by WhatsApp Chat

×
%d bloggers like this:
Enable Notifications    OK No thanks