LEGENDA; Buaya Kali Inggoi dan Murkanya Sultan Bacan

Abdul Rahim Karim Tarafanu, penutur cerita legenda Buaya Kali Inggoi. (foto: istimewa)

Bacan, malutpost.id – Setiap daerah memiliki cerita rakyat masing-masing. Ada Malin Kundang di Sumatera atau Si Kebayan di Jawa Barat. Begitu pun di jazirah Moloku Kie Raha. Begitu banyak legenda yang jarang dibukukan.

Salah satu cerita rakyat yang terkenal di Bacan adalah buaya Kali Inggoi, hewan reptile yang hidup di sungai tepi Desa Amasing Kota. Amasing Kota merupkan pemukiman masyarakat adat. Sejak ratusan tahun lalu, masyarakat setempat memfungsikan Kali Inggoi sebagai jalur transportasi, arena rekreasi dan renang.

Legenda buaya Inggoi muncul diawali dari satu peristiwa tragis pada masa kekuasaan Sultan Oesman Sjah pada tahun 1800-an akhir. Cerita ini dituturkan salah seorang tokoh masyarakat adat Bacan, Abdul Rahim Karim Tarafanur kepada malutpost.id, Ahad (29/8/2021).

Suatu sore, adik perempuan dari Sultan Oesman Sjah bernama Soraya pergi ke jamban yang terletak di Kali Inggoi. Soraya merupakan gadis yang beberapa waktu sebelumnya menolak pinangan seorang pria untuk diperistri.

Saat berada di dalam jamban, tiba-tiba saja ada sesuatu yang melompat dari sungai. Bangunan jamban dari papan yang terletak di atas sungai itu pun ambruk. Rupanya, seekor buaya menyerang Soraya. Putri Kesultanan Bacan itu pun menjerit.

Kapitalao (Panglima Perang Kesultanan Bacan), Dede Andong Bugis dan istrinya saat itu berada tak jauh dari lokasi kejadian. Mereka kemudian berusaha menyelamatkan Soraya. Istri Kapitalao membalut tubuh Soraya yang penuh cakaran buaya dengan sehelai kain lalu keduanya membopong ke Keraton Sultan.

Sultan Oesman Sjah lalu memerintahkan salah seorang di Keraton untuk memanggil seorang dokter Belanda. Namun, meski sudah ditangani pengobatannya secara medis, namun kondisinya semakin kritis. 10 hari kemudian, Soraya meninggal.

Kematian Soraya ini dihubungkan dengan penolakan terhadap pinangan seorang lelaki yang ingin menyuntingnya sebagai istri. Dan, konon lelaki itu menggunakan guna-guna dan berubah menjadi seekor buaya.

Kematian Soraya mengundang murka Sang Sultan. Dia memerintahkan bala tentara Keraton untuk mencari buaya pemangsa adiknya itu, namun tidak ditemukan.

Sultan Oesman Sjah kemudian turun langsung menelusuri tepian Kali Inggoi. Dari arah Kotapopo dekat Benteng Barnaveld, Sang Sultan dengan kekuatan dan suaranya yang tinggi memanggil seluruh buaya. Tiba-tiba beberapa ekor buaya datang dan tunduk di hadapan Sultan. Sultan Oesman Sjah kemudian bertitah, ”Ini yang pertama dan terakhir kali, kalian (buaya) memangsa adik saya. Jangan lagi kalian menyentuh dan memangsa anak keturunan saya. Kalau tidak, saya akan mengusir kalian dari wilayah ini.”

Tak lama setelah titah Sultan itu, buaya-buaya itu kembali ke Kali Inggoi dan beberapa lama tak pernah ada seekor buaya pun tak tampak di atas sungai yang di tengahnya terdapat Pulau Silangsumbayang itu.

Meski hidup di Kali Inggoi dalam jumlah lebih dari satu ekor, buaya-buaya itu tak pernah mengusik aktifitas warga. Di hulu sungai, buaya-buaya itu sering naik ke daratan di sekitar pemukiman warga di belakang Benteng Barnaveld.

Belakangan, tiga ekor buaya mulai berpindah ke muara sungai yang ramai dilalui warga dengan perahu dan motor temple. Warga sering berpapasan dengan buaya-buaya itu. Bahkan anak-anak sering mandi di sekitar namun tidak ada satu pun yang diserang hewan berdarah dingin itu.

Warga di ujung kompleks Taman Sari yang berbatasan dengan muara Kali Inggoi bahkan sering melihat buaya-buaya itu naik dan masuk pe pemukiman warga.

Mereka tak pernah mau mengusir apalagi berusaha menangkap buaya-buaya tersebut. Mereka yakin hewan ampibi itu tetap akan mendengar titah Sultan untuk tidak mengganggu warga. Di muara Inggoi ini, warga sudah menganggap buaya sebagai bagian dari ekosistem untuk saling menjaga.(k01)

 

 

Laporan: Maulana Djamal Syah

Editor: Ismit Alkatiri

Kolom Komentar
CATEGORIES
TAGS
×

Powered by WhatsApp Chat

×
%d bloggers like this:
Enable Notifications    OK No thanks