Setahun, ”Bacan Kota” Produksi Sampah 12,5 Juta Kg

Catatan:
Maulana Djamal Syah & Ismit Alkatiri

BACAN – Jika tidak segara ditangani, maka ke depan sampah akan menjadi salah satu masalah serius di ibukota Kabupaten Halmahera Selatan (Halsel).  Betapa tidak, saat ini, 3 kecamatan di wilayah perkotaan–Bacan, Bacan Selatan, dan Bacan Timur–dalam setahun memproduksi sampah hampir mencapai 12,5 juta kg setiap tahun.

Jumlah sampah di wilayah ”Bacan Kota” itu diproduksi 3 kecamatan yang terakses perhubungan darat. Data produksi sampah yang diperoleh malutpost.id dari instansi teknis di kabupaten penduduk terbanyak di Malut ini cukup mencengangkan. Kepala Seksi Kebersihan dan Pengolahan Sampah Dinas Perumahan dan Permukiman Kabupaten Halmahera Selatan, Samsul Kamarullah S.Pi, menyebut, total produksi sampah di Halsel setiap hari sebanyak 706,13 meter kubik atau setara dengan 176,53 ton per hari (176,5 ribu kg). Dengan jumlah penduduk sebanyak 251.299 jiwa di Halsel, maka rata-rata produksi sampah  per penduduk sebesar 0,7 kg setiap hari.

Baca:  BMKG: 3 Kecamatan di Kepulauan Sula Potensi Hujan Sedang

Angka 0,7 kg sampah/penduduk/hari tersebut, sama dengan rata-rata nasional. Sedikit di bawah produksi sampah Kota Ternate khusus wilayah perkotaan sebesar 150 ton/per hari atau rata-rata per penduduk 0,74 kg.

Namun, karena data total produksi sampah di Halsel baru sebatas estimasi, dan 30 dari 33 kecamatan di kabupaten itu belum ada standar ukur pasti produksi sampahnya, maka tolok ukur produksi sampah diambil dari 3 kecamatan di wilayah perkotaan atau  bisa disebut dengan ”Bacan Kota”. Ketiga kecamatan ini jumlah penduduknya 53.968 jiwa. Data produksi sampah ketiga kecamatan ini per hari, menurut Samsul, sebanyak 138,91 meter kubik atau 34,72 ton per hari (34.720 kg). Artinya, total produksi sampah setahun sebanyak 12,5 juta kg.

Menurut Samsul, dari jumlah produksi sampah sebesar 34,72 ton itu, yang tertangani baru sekitar 99,34 meter kubik (24,835 ton). Artinya, hampir 10 ton sampah itu tak terangkut ke TPA (Tempat Pembuangan Akhir). Persoalannya, armada angkutan sampah yang tersedia di Halsel relatif terbatas. Truk sampah hanya 4 unit ditambah 7 unit motor roda tiga. Jumlah armada itu hanya beroperasi di 3 kecamatan saja. Sementara alat pendukung lain meliputi 2 unit eskavator yang berfungsi pengurai sampah di TPA serta alat pencacah sampah plastik.

Baca:  Jadi Model Perikanan Budidaya, Halsel Siapkan 200 Ha Lahan Sentra Produksi dan Bisnis

Jika ditilik dari rata-rata produksi sampah per penduduk yang sama antara Halsel dan Ternate yakni 0,7 kg, maka yang membedakan adalah pengaruh aktifitas industri dan perdagangan di Kota Ternate jauh lebih besar  ketimbang Halsel. Ini menandakan produk sampah secara ril oleh penduduk justru lebih besar Halsel ketimbang Kota Ternate.

Dari aspek pengolahan sampah, menurut catatan, untuk wilayah ”:Bacan Kota” masih pengangkutan dan pembuangan di TPS. Sementara di 30 kecamatan lainnya, pengolahan sampah masih terbatas pada pola tradisional, yakni menimbun di tempat tertentu, membakar, membuang ke sungai dan penduduk pesisir sering menjadikan pantai sebagai tempat pembuangan akhir. Di wilayah-wilayah itu belum ada armada angkutan sampah yang disediakan pemerintah.

Baca:  Halsel Miliki Potensi Sentra Pengembangan Sistem Budidaya Perikanan Terpadu

Selain pengolahan sampah yang hanya diangkut ke TPA, sejauh ini belum ada pola daur ulang sampah baik yang dilakukan instansi terkait maupun swasta. Di lokasi TPA, daur ulang masih sebatas pemisahan sampah plastik yang kemudian dihancurkan dengan alat pencacah. Di beberapa kota lainnya, daur ulang sampah berimplikasi pada nilai ekonomi melalui aneka produk.  Di sisi lain, penanganan sampah di “Bacan Kota” belum didukung aktifitas bank sampah yang biasanya dikelola kelompok masyarakat atau pemerintah desa.(*)

Kolom Komentar
CATEGORIES
TAGS
×

Powered by WhatsApp Chat

×
%d bloggers like this:
Enable Notifications    OK No thanks