Tubuh (Tak) Merdeka

Herman Oesman

Oleh :  Herman Oesman

 

“Tubuh tidak semata-mata kulit dan tulang, namun tubuh adalah diri…

Ini merupakan cara baru untuk menjelajahi wujud diri kita

dan hubungan kita dengan orang lain dalam masyarakat”

(Anthony Synnott, The Body Social, 1992 : 1, 6)

 

Nuansa peringatan kemerdekaan 76 Tahun Republik Indonesia masih terasa. Di pojok desa/kelurahan semangat patriotisme itu terus dimaknai berkesinambungan dalam berbagai bentuk ekspresif. Namun, dalam beberapa bulan terakhir ini, pemberitaan tentang kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak begitu mengemuka. Dimulai dari kasus pemerkosaan pada beberapa wilayah dan pencabulan pada anak di bawah umur oleh seorang residivis (lihat, Cermat, 2 Agustus 2021), menambah rentetan daftar panjang tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak di tengah semarak kemerdekaan. Tak hanya dalam dunia riil, tindakan kekerasan itu pun menyesap, memasuki dunia digital dengan angka yang mengejutkan. Rilis data dari DP3A Provinsi Maluku Utara (2020) terdapat total 144 kasus kekerasan atas perempuan dan anak yang tersebar di 10 kabupaten/kota, belum lagi di tahun 2021 ini. Sesuatu yang memiriskan dan mengkhawtirkan tengah mengintai perempuan dan anak-anak kita.

Di tengah kencangnya mesin digitalisasi bekerja melalui jejaring yang maha luas disertasi big data yang menyebar dan berserakan begitu kaya di jagad platform media sosial, diikuti peningkatan pandemi Covid-19 yang nyata dan misterius dalam kehidupan masyarakat dunia, justru pelaku kekerasan maupun pemerkosaan terhadap perempuan dan anak mencoba mengambil kesempatan menjalankan aksi kejahatannya. Ini terus terjadi dan berulang. Meminjam  istilah Hannah Arendt (1906-1975), ada praktik banalitas kejahatan atas tubuh, suatu kejahatan yang sudah biasa sekali dilakukan. Kali ini, kejahatan itu lebih pada tubuh perempuan dan anak.

Tubuh kaum perempuan dan anak merupakan dimensi koersi yang tak berdaya di mata pelaku kekerasan, bahkan barangkali di mata negara. Pelaku tindakan bejat atas tubuh perempuan dan anak yang setiap saat terus melakukan penghisapan kekuatan tanpa daya. Di tengah dunia yang makin transparan, ketika media sosial menjadi panoptikon (pengintai), masih ada orang yang tanpa nurani berbuat tindakan nista atas perempuan dan anak. Sekali lagi, perempuan dan anak yang menjadi korban tak mampu melakukan perlawanan. Mereka lemah dalam struktur sosial yang kompleks dan rumit. Anehnya, kejahatan yang biasa saja dan terus berulang, berulang, dan berulang itu seolah terus diproduksi, dan pelakunya tak mengenal kata jera. Ketika berhadapan dengan penegakan hukum, kasus ini pun seolah menemui jalan buntu. Tak berjejak.

Mereka para pelaku kejahatan pemerkosaan dan pencabulan, memang tidak memahami tubuh perempuan dan anak dalam konteks makna simbolik yang memiliki arti konstruksi relasi sosial. Persoalan profanitas dan kesucian atas tubuh perempuan dan anak sebagai representasi struktur pembagian sosial diabaikan. Bagi mereka, tubuh perempuan dan anak adalah wilayah “penjajahan”. Tubuh perempuan bagi pelaku kejahatan adalah sebuah destruksi dan mekanisasi, yang dari sana bermuara dan lahirnya kejahatan itu. Menurut Anthony Synnott (1992 : 1), tubuh tidak semata-mata kulit dan tulang, namun tubuh adalah diri yang dari sana konstruksi sosial dan budaya terlahir. Padahal tubuh pada bagian tertentu beserta atributnya menjadi determinan pembentukan konstruksi identitas diri, yang dari sana status sosial atas tubuh itu diletakkan. Pemahaman tubuh sosial inilah yang melahirkan beragam persepsi. Karena itu, tubuh, dapat berarti sangat berbeda realitas (different realities) dan persepsi tentang realitas (perceptions of reality) (Synnott, 1992:7).

Dalam dimensi lain, kerap, terutama tubuh perempuan juga menjadi penyangga dari produk-produk kapitalisme yang secara terbuka memberi aksentuasi estetis. Mobil, parfum, kosmetik, fashion, fun, dan lainnya, tubuh perempuan adalah pembeda.  Lalu, tak hanya tubuh perempuan, pada tubuh laki-laki juga “penjajahan” itu masih terjadi. Pada pabrik-pabrik yang mengejar keuntungan, tubuh-tubuh itu “dipaksa” untuk bekerja guna memupuk keuntungan kapital. Hari besar keagamaan, tak jarang mereka tak bisa nikmati karena harus memenuhi keinginan sang pemilik modal.

Bagi kapitalisme sendiri, faktor produksi adalah upaya aktualisasi kehidupan manusia yang serta merta membutuhkan kekuatan, karena itu manusia bisa survive kalau mendapatkan modal hidup yang diolahnya. Namun, kenyataan ini oleh beberapa ahli dianggap telah menyimpang, karena melalui faktor produksi manusia, dia bukan hanya mencari kekuatan hidupnya, melainkan justru melakukan penghisapan terhadap hak hidup dan hak kebutuhan manusia lain yang dipekerjakan.

Kapitalisme, demikian Peter L. Berger (1990:168-169), telah menjadi fenomena global. Dimulai kelompok-kelompok perusahaan-perusahaan raksasa kapitalis, yang didasarkan pada perekonomian feodal abad tua dan subsisten di Eropa, kemudian memperluas jangkauan –melalui perdagangan, perluasan daerah dan penetrasi budaya. Kapitalisme telah menjadi salah satu kekuasaan yang paling dinamis dalam sejarah peradaban manusia, mengubah masyarakat dari bentuk yang satu ke bentuk yang lain.

Untuk itu, tubuh yang telah menjadi objek kejahatan, tak hanya sekadar butuh pendampingan (advokasi), tetapi memerlukan perkakas “perlawanan” berupa kesadaran diskursif untuk melawan hirarki struktur dominasi yang dilakukan pelaku tindakan-tindakan nista mulai dari unit terkecil masyarakat, yakni keluarga. Keluarga, sebagai struktur sosial terkecil masyarakat selama ini, perlu diberdayakan. Tatkala persoalan hulu ini belum terselesaikan, maka rentetan persoalan kekerasan rumah tangga akan terus mengalir tanpa henti.

Dimensi keluarga harus mulai menjadi bagian penting untuk disikapi. Secara universal, Hildred Geertz (1985) mencatat, keluarga merupakan jembatan antara individu dan budayanya. Secara umum, keluarga merupakan miniatur suatu masyarakat, karena semua norma-norma, maupun aturan dalam bertingkah laku serta nilai-nilai dalam keluarga tersebut dapat diterapkan dalam masyarakat secara umum. Karenanya, konstruk sosial budaya atas tubuh perempuan dan anak yang selama ini mengalami domestikasi dan tak merdeka, harus dimatangkan dalam keluarga, agar tubuh itu kembali menjadi merdeka tanpa kekerasan.[*]

Kolom Komentar
CATEGORIES
×

Powered by WhatsApp Chat

×
%d bloggers like this:
Enable Notifications    OK No thanks