Belajar dari Internet, Sekali Panen Petani Cabe Bacan Raup Rp60 Juta – Rp80 Juta

Hamka dan lahan garapannya yang ditanami cabe keriting di Desa Wayamiga Bacan Timur, Halsel. (foto: maulana/malutpost.id)

Bacan, malutpost.id – Akses literasi digital tak hanya milik warga perkotaan. Warga pedesaan pun kini bisa belajar banyak hal melalui internet. Hasilnya seperti yang dirasakan Hamka,  petani cabe di Bacan, Halmahera Selatan.

Petani di Desa Wayamiga Kecamatan Bacan Timur ini sudah lama berkebun. Setiap hari waktunya habis untuk membersihkan rumput, mengolah tanah, menanam cabe lalu panen. Tapi hasilnya, kata pria berusia 53 tahun ini, sangat minim. ”Terkadang gagal panen dan sama sekali tidak menghasilkan apa-apa kecuali lelah,” tukas Hamka ketika ditemui malutpost.id, Minggu (22/8/2021) di kebunnya, Desa Wayamiga.

Baca:  Bekerja Lebih Awal, Petugas Sampah Kota Bacan Mengartikulasi Nilai Juang

Pada 2019 lalu, Hamka diberikan sebuah handphone android oleh saudaranya. Semula, alat komunikasi digital itu hanya digunakan untuk komunikasi biasa. Lama kelamaan, ayah 8 anak itu mulai mengutak-atik internet. Dia masuk ke channel youtube. ”Saya buka cerita-cerita tentang petani cabe yang sukses. Saya pelajari cara-cara dari pengolahan lahan hingga pola panen,” tuturnya.

Pengetahuan dari internet itu kemudian dipraktikkan Hamka di atas lahan seluas 1 ha. Dia mengikuti cara seperti yang ditonton di video internet. Mulai dari pengolahan tanah (penggemburan),  penyemaian biji, perawatan, hingga panen dan pasca panen iikuti dengan saksama. ”Awalnya saya memulai dengan luasan yang terbatas. Setelah melihat hasilnya produktif, saya mulai mengembangkan lahan garapan,” tandasnya.

Baca:  Basarnas Berhasil Selamatkan 10 Nelayan di Perairan Kayoa

Di atas lahan milik desa yang dipinjam itu, Hamka mulai menggarap tanaman cabe secara serius. Dia menerapkan pola penggemburan tanah dengan menggunakan traktor tangan, menggunakan bibit pilihan, pemupukan yang tepat serta pemanfaatan alat-alat pertanian lainnya, serta pemetikan sesuai presedur yang diperoleh dari internet.

Di tengah pandemi Covid-19 yang ikut mempengaruhi ekonomi masyarakat, Hamka justru bangkit. Dia keluar dari lilitan keterdesakan ekonomi yang harus menafkahi 10 orang dalam 1 rumah. Di lahan 1 ha itu, tidak semuanya digunakan untuk menanam cabe keriting. Ada sebagian ditanami jagung dan sayur-sayuran konsumsi setiap hari. Khusus cabe keriting, sekali panen bisa mencapai 4 ton. ”Sebulan dua kali panen,” katanya.

Baca:  Hindari Penularan Covid-19, HARITA Nickel Vaksinasi 6.000 Karyawan

Berapa pendapatan yang diperolehnya? Sekali panen Hamka bisa meraup uang sebesar Rp60 sampai Rp80 juta. Hasil panen cabe keriting milik Hamka itu dibeli pedagang pengumpul dengan nilai Rp15 ribu hingga Rp20 ribu/kg. Praktis, jika setahun dua kali panen, maka petani yang mulai memasuki fase pertanian modern ini punya pendapatan antara Rp120 juta hingga Rp160 juta. ”Sekarang ini, saya belanja bibit dan pupuk dari Sumatera melalui internet,” tukas Hamka.(k01)

 

 

Laporan: Maulana Djamal Syah

Editor: Ismit Alkatiri

Kolom Komentar
CATEGORIES
TAGS
×

Powered by WhatsApp Chat

×
%d bloggers like this:
Enable Notifications    OK No thanks