Sepanjang Pandemi, Banyak Istri di Kepulauan Sula Gugat Cerai Suami

Ilustrasi cerai. (istimewa)

Sanana,malutpost.id — Pandemi Covid-19 membawa berbagai dampak tak terkecuali hubungan keluarga. Pengadilan Agama Labuha mencatat jumlah kasus perceraian sepanjang 2021 hingga Agustus terdapat 108 kasus cerai.

Angka percerian ini naik dari 2020 yang hanya terdapat 80 perkara. Mayoritas penggugat menyebutkan faktor KDRT (kekerasan dalam rumah tangga) menjadi alasan utama pasangan suami istri mengakhiri hubungan.

Humas Pengadilan Agama Labuha, Fuad Hasan menjelaskan, dari 108 kasus, terdiri atas cerai talak sebanyak 21 perkara dan cerai gugat sebanyak 87 perkara.

Dia menyebutkan, perkara perceraian kali ini didominasi istri gugat suami dengan 87 perkara, sedangkan suami gugat istri hanya 21 kasus. Sidang perceraian ini berlangsung sejak 16-19 Agustus oleh Pengadilan Agama Labuha di kantor Pengadilan Negeri Sanana.

Baca:  Puskesmas Batang Dua Butuh Stok Oksigen

“Penyebab terjadi perceraian ini mayoritas dikarenakan sering suami memukul istri, sering mabuk dan kawin lagi. Angka perceraian yang paling banyak itu terdapat di Kabupaten Sula,”jelas Fuad kepada malutpost.id di kantor PN Sanana, Kamis (19/8/2021).

Dia menjelaskan, wilayah kerja PA Labuha mencakup, Kabupaten Halmahera Selatan, Kepulauan Sula dan Taliabu. Namun, dari dua daerah ini Sula angkat perceraian tertinggi. “Jadi skarang lebih tinggi dari pada tahun sebelumnya,”tandasnya.(mg-01)

 

 

_

Laporan: Hamdi Embisa

Editor: Ikram Salim

Kolom Komentar
CATEGORIES
TAGS
×

Powered by WhatsApp Chat

×
%d bloggers like this:
Enable Notifications    OK No thanks