Pentas Dendang Bacan, Mengenang Kunjungan Pertama Bung Karno di ”Negeri Saruma”  

Pemuda Amasing latihan pentas seni kolaborasi Dendang Bacan (foto:maulana/malutpost.id)

Bacan merupakan salah satu kerajaan Islam tertua di Nusantara. Tersohor bersama 3 kerajaan lain di Moloku Kie Raha; Ternate, Tidore, dan Jailolo. Namun, tak banyak catatan sejarah mengabadikan heroisme negeri ini dalam perjuangan bangsa.

Oleh:

Maulana Patra Syah dan Ismit Alkatiri

AROMA rempah-rempah ikut membuat Bacan jadi incaran bangsa Eropa pada abad 16 lalu. Namun, Harmain Iskandar Alam (alm), salah satu tokoh di kesultanan itu yang pernah ditemui beberapa tahun lalu, menyatakan bahwa Bacan tidak pernah dijajah satu pun bangsa Eropa.

Pernyataan itu diperkuat cacatan M. Adnan Amal dalam bukunya Kepulauan Rempah-rempah. Pada tahun 1558, Gubernur Portugis Antonio Galvao berencana menyerbu Bacan. Namun, penguasa Kesultanan Bacan membuat perjanjian perdamaian tanpa perang. Demikian pula Spanyol yang melakukan penyerbuan ke Bacan berhasil dipatahkan Kesultanan Bacan.

Baca:  Akibat Korsleting Listrik, Sebuah Rumah di Ternate Terbakar

Menurut cerita Nau Main, sapaan akrab mantan Jogugu Kesultanan Bacan itu, kehadiran Belanda di Bacan sebagai mitra bisnis. Perjanjian itu dilakukan dengan perusahaan swasta Belanda bernama Baatjan Archipel Maatschappij (BAM) yang berinvestasi di wilayah Kesultanan Bacan pada tahun 1881.

Dari berbagai cerita dan data, memang tidak ada perang yang terjadi antara Belanda dan Kesultanan Bacan. Karena kehadiran Belanda tidak menjajah namun beraktifitas bisnis berdasarkan perjanjian yang setara. Namun, Sultan Muhammad Oesman Sjah, penguasa Kesultanan Bacan itu juga terlibat dalam perjuangan kemerdekaan. Keterlibatan itu tidak di jalur pertempuran melainkan ekonomi dan media. Sultan Oesman Sjah merupakan salah satu pendiri Surat Kabar Medan Prijaji  bersama Tirto Adhi Soerjo. Koran pertama yang dikelola pribumi ini isinya terang-terang melawan penjajahan Belanda. Salah satu redakturnya Siti Fatimah bergelar Princess Kasiruta adalah putri Sultan Oesman Sjah dan istri dari Tirto Adhi Soerjo, salah seorang pahlawan nasional.

Baca:  Ini Cerita Penghuni Kost Sebelum Mahasiswa Itu Ditemukan Tewas Tergantung

Nilai-nilai kejuangan dua tokoh Kesultanan Bacan bersama Pahlawan Nasional Tirto Adhi Soerjo itu  terus dikenang generasi muda, terutama Pemuda Amasing. Di momentum Peringatan 76 Tahun Kemerdekaan Indonesia, sekelompok anak muda Amasing sibuk menyiapkan pentas seni tradisional Dendang Bacan yang dikolaborasi dengan tarian soya-soya.

Dendang Bacan sendiri merupakan paduan seni sastra dan musik yang dimainkan beberapa orang berisikan pantun berirama disertai tabuhan rebana. Isinya pesan-pesan bijak, nasihat, pola menyelesaikan masalah serta saling bermaaf-maafan. Pentas kolaborasi Dendang Bacan dan Soya-soya itu rencananya dilaksanakan dalam pembukaan Musyawarah Pemuda Amasing sekaligus memeriahkan HUT Kemerdekaan RI tahun ini.

Pihak penyelenggara menyebut, pentas seni ini juga sekaligus mengenang sejarah kunjungan perdana Presiden RI, Proklamator Ir Soekarno ke ”Negeri Saruma”  bersama Ibu Negara dan dua putrinya, Sukmawati dan Megawati pada medio 1957. ”Seni tradisional dendang ini sekaligus mengenang sejarah kunjungan Bung Karno Sang Proklamator ke Bacan pada tahun 1957,” kata Aridian, Kordinator Acara Panita Musyawarah Forum Pemuda Amasing di lokasi latihan, samping Lapangan Merdeka Labuha.(*)

Kolom Komentar
CATEGORIES
TAGS
×

Powered by WhatsApp Chat

×
%d bloggers like this:
Enable Notifications    OK No thanks