Refleksi 76 Tahun Merdeka: Merdeka, Memaknai Ulang Indonesia (1)

Syaiful Bahri Ruray

(Syaiful Bahri Ruray)

A country without memory,
is a country of madmen
[George Santayana]

Proklamasi: Bermula dari Gorontalo

Setiap Agustus, kita bangsa Indonesia senantiasa memiliki common memory bahwa Indonesia adalah bangsa yang merdeka dan terlepas dari kolonialisme dengan jalan berliku-liku. Banyak sekali korban di seantero Indonesia yang tak terhitung, dalam mencapai puncak momentum merdeka tersebut. Bahkan ada makam pejuang Indonesia di Kota Cowra, Negara Bagian New South Wales, Australia, yaitu makam pahlawan perintis kemerdekaan para eks Digoelisten, eks Tapol Hindia Belanda di Boven Digoel yang tak sempat kembali ke tanah air yang mereka perjuangkan. Juga sampai ke Afrika Selatan, yaitu Syekh Yusuf Al-Makassari Al Bantani (1626-1699) dari Gowa dan Tuan Guru Imam Abdullah Qadi Abdusalam (1712-1807) dari Tidore, dua ulama Nusantara yang dibuang Belanda ke Cape Town.

Sebagai sebuah fakta sejarah bahwa proklamasi 17 Agustus 1945 adalah sebuah momentum kritis yang sangat menentukan nasib sebuah bangsa yang lama berada dalam kungkungan kolonialisme, memang masih banyak menyisakan detail peristiwa dalam sejarah kita yang belum terungkap secara benar, objektif, dan cermat. Bahkan cenderung kita menerima persepsi dan interpretasi begitu saja tentang diri kita, dengan meneruskan apa yang ditulis oleh sejarawan Barat. Termasuk menelan begitu saja bahwa Indonesia telah dijajah Belanda selama 350 tahun lamanya. Hingga 76 tahun usia kemerdekaan Indonesia, bangsa ini masih perlu mengumpulkan puzel-puzel sejarahnya agar menjadi kekuatan identitas Indonesia sebagai sebuah nation state yang kokoh. Selama sejarah masih terbengkalai, bahkan cenderung disepelekan, maka nation and character building Indonesia pun masih carut marut untuk dibentuk menjadi sebuah kekuatan. Bahkan yang terjadi adalah manipulasi sejarah. Misalnya saja di Gorontalo, Nani Wartabone, telah mendahului memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada 23 Januari 1942, setelah ia memporak-porandakan dan melucuti Pasukan Belanda. Nani Wartabone dan pasukannya menahan Residen Belanda, Kepala Polisi, dan menduduki kantor pemerintahan. Bendera Belanda pun diturunkan dan digantikan dengan Sang Saka Merah Putih di depan Kantor Pos Gorontalo. Nani Wartabone, eks sekretaris Jong Gorontalo di Surabaya pada 1923 itu, akhirnya dibuang Belanda ke Wayabula, Morotai. Artinya 3 tahun sebelum proklamasi di Pegangsaan Timur 56 Jakarta dikumandangkan, Gorontalo telah mendahuluinya para 23 Januari 1942 tersebut.

Diksi Keliru: 350 Tahun Di Jajah (Revolusi Bermula dari Ternate)

Baca:  Pelayanan di Kantor Lurah Tarau Aktif Kembali, Rizal Janji Akomodir Tuntutan Masa Aksi

Kita sering lupa bahwa bentuk perang modern dewasa ini adalah Proxy Warfare atau Perang Asimetris, dimana sejarah dijadikan senjata yang ampuh untuk menguasai sebuah bangsa dengan tanpa meletuskan peluru. Juri Lina, seorang penulis Swedia, dalam Architect of Deception (2004), menyatakan akan strategisnya hal ini dalam perang proxy modern sekarang. Ia menyebutkan ada tiga cara melemahkan dan menjajah suatu negeri. Pertama, kaburkan dan manipulasi sejarahnya. Kedua, hancurkan bukti-bukti sejarah bangsa itu hingga tidak bisa lagi diteliti dan dibuktikan kebenarannya. Ketiga, putuskan hubungan mereka dengan para leluhur, dengan mengatakan leluhur itu bodoh dan primitif. Dengan tiga cara ini, maka sebuah bangsa dengan mudah dikuasai hingga ratusan tahun. Dan itulah yang terjadi pada diri kita, dimana bangsa kita direndahkan sebagai inlander, yang menjadi warga negara kelas tiga dibawah rezim kolonial. Sedangkan bangsa Eropa, termasuk Jepang adalah warga negara kelas satu. Golongan Timur Asing sebagai warga negara kelas dua, sebagaimana diatur dalam Pasal 163 I.S (Indische Staatregeling) yang berasal dari Pasal 109 R.R baru, dalam Staatblad 1926-577 tersebut.

Demikian halnya dengan sejarah kemerdekaan kita. Menghitung angka 350 tahun sejak Cornelis de Houtman membuang sauh di Teluk Banten pada Maret 1596, adalah sebuah kekeliruan besar. Karena de Houtman hanya datang ke Banten untuk penjajakan guna membuka pos perdagangan di Nusantara. Itu pun belum ada VOC yang baru berdiri pada 1602 dan kita dikuasai oleh VOC. De Houtman pun tidak sempat kembali ke negerinya Belanda, karena ia dengan angkuh menantang duel Laksamana wanita Keumalahayati (1550-1615) di atas kapalnya sendiri. Akhirnya de Houtman pun tewas bersimbah darah diujung rencong Srikandi Aceh Keumalahayati pada 11 September 1599. Adiknya Frederick de Houtman dan sisa pasukan Belanda, sempat ditahan oleh Pasukan Inong Bale, Aceh, namun kemudian dilepas untuk kembali ke Belanda.

Bahwa angka 350 tahun, sepertinya sengaja digulirkan dalam revolusi kemerdekaan untuk memotivasi pejuang-pejuang kemerdekaan agar gigih melawan penjajah yang akan kembali ke Nusantara. Kita tahu bahwa Hindia Belanda sendiri, bubar setelah Perjanjian Kalijati, Subang, Jawa Barat pada 9 Maret 1942, ketika Gubernur Jenderal Hindia Belanda Tjarda van Stakenborgh Stachouwer (1936-1942) dan Panglima KNIL Letnan Jenderal Hein ter Poorten menandatangani penyerahan kepada Jenderal Hitoshi Imamura, Komandan Bala Tentara Dai Nippon. Hindia Belanda dengan demikian resmi beralih ketangan Jepang. Jadi resminya penjajahan Belanda berakhir terhitung 9 Maret 1942 tersebut. Maka sangatlah benar dan tepat pernyataan delegasi Republik Indonesia di Dewan Keamanan PBB, Lambertus Nicodemus Palar, dalam memorandumnya pada 20 Januari 1949, menyatakan bahwa kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, bukanlah peristiwa pemberontakan terhadap Belanda. Karena saat Proklamasi Indonesia, Belanda tidak lagi memiliki legitimasi atas wilayah Indonesia setelah menyerah kepada Imperialis Jepang pada 9 Maret 1942 tersebut. Hal ini disampaikannya di depan Dewan Keamanan setelah Agresi Militer Belanda yang kedua pada 19 Desember 1948.

Baca:  Setahun, ”Bacan Kota” Produksi Sampah 12,5 Juta Kg

Memang sebelumnya Gubernur Jenderal Hindia Belanda ke 63, Bonifacius Cornelis de Jonge, pada 1935, pernah berucap: “Als ik met nationalisten praat, begin ik altijd met de zin: Wij Nederlanders zijn hier al 300 jaar geweeist en we zullen nog minstens 300 jaar belijven. Daarna kunnen we praaten.” Kata de Jonge, apabila saya berbicara dengan para nasionalis, saya selalu memulai dengan kalimat: kami Belanda telah di sini 300 tahun dan kami bahkan akan tinggal paling sedikit 300 tahun lagi. Kemudian kita bisa bicara lagi.

Kalimat de Jonge yang arogan inilah, menjadikan titik tolak bagi Bung Karno dan para pejuang untuk melawannya. Padahal jika kita cermati dengan benar, Bali, Aceh dan Batak, dijajah secara efektif hanyalah kurang dari 40 tahun saja. Perang Aceh sendiri, bukanlah pemberontakan melawan administrator kolonial Belanda, karena saat itu Aceh adalah sebuah negara berdaulat. Aceh ditaklukkan pada 1904, namun efektif dikuasai Belanda pada 1912. Sedangkan Bali ditaklukkan pada 1906. Sebelumnya Belanda juga telah menyerbu Ternate, Halmahera, Jailolo dan Tidore pada 1605, untuk menguasai lumbung rempah-rempah nusantara tersebut. Belum lagi kita menghitung kekuasaan Portugis, Spanyol, Inggris hingga Perancis di nusantara. Memang nusantara, adalah primadona yang diperebutkan oleh bangsa Eropa, sejak ditandatanganinya Traktat Tordesilas pada 1494, dimana Paus Alexander VI Borgia, membagi dunia atas dua bagian menjadi milik Portugis dan Spanyol. Dua kekuatan abad pertengahan ini, mengklaim dunia milik mereka hingga keduanya tiba di Ternate dan Tidore dan bentrok. Revolusi melawan kolonialisme justeru berawal dari Kepulauan Rempah-rempah ini. Ketika Sultan Baabullah Datuk Syah berhasil mengusir kekuatan Portugis yang dari Nusantara pada 26 Desember 1575 untuk meninggalkan Benteng Nuestra Senhora del Rosario atau Kastil Santo Paolo di Ternate untuk selamanya.

Baca:  Refleksi 76 Tahun Merdeka: Merdeka, Memaknai Ulang Indonesia (Bagian 2)

Wartawan Radio Hilversum, Belanda sekaligus peneliti Joss Wibisono, juga pernah meneliti tentang kekuasaan Hindia Belanda dalam dokumen-dokumen di Belanda dalam bukunya yang membantah angka 350 tahun Indonesia dijajah tersebut. Sebelumnya ahli hukum Prof.Mr. G.J. Resink, juga menulis hal yang sama, dengan meneliti dokumen hukum Hindia Belanda yang menyimpulkan bahwa hukum Belanda tidak sertamerta berlaku di seluruh wilayah nusantara. Padahal kita selama ini dicekoki dengan azas konkordansi, bahwa hukum yang berlaku di Belanda berlaku juga di Hindia Belanda berdasarkan azas tersebut. Banyak keputusan Landraad (pengadilan) Hindia Belanda tidak dapat diberlakukan di wilayah- wilayah tertentu di Nusantara karena wilayah tersebut masih berlaku hukum adat dengan kuatnya sebagai hukum positif yang sah. Artinya secara hukum, wilayah tertentu di Hindia Belanda telah memiliki legal standing tersendiri, tidak tunduk pada hukum kolonial. Ternyata pendekatan hukum internasional terhadap sejarah, menjadi hal signifikan dalam meluruskan sejarah nasional kita, kata sejarawan Prof. Taufik Abdullah.

Jauh sebelum kedatangan kolonial Eropa, nusantara juga telah di incar Dinasti Yuan (Mongol) dari daratan China, pada 1289, di masa Kertanegara mejadi raja Kediri, Pasukan Mongol dibawah Meng Khi, pernah dipotong telinganya, sebagai bukti penolakan bahwa nusantara menolak untuk tunduk kepada Dinasti Mongol tersebut. Kubilai Khan pun mengirim 20 ribu pasukan lengkap dengan armada angkatan lautnya dibawah pimpinan Ike Mese, Kau Hsing dan Shih Pipada 1292 untuk membalas penghinaan Kediri tersebut. Namun Kediri telah berganti menjadi Singasari dibawah Raden Wijaya. Pasukan Tar-tar, gabungan China dan Mongol itu, adalah pasukan terkuat yang nyaris menguasai seluruh dunia. Namun di nusantara mereka kocar kacir menghadapi perlawanan sengit para pendekar Jawa di tepian Kali Brantas, dari Kota Gresik, sampai Blitar hingga Tulungagung. Tentara Mongol dengan pasukan berkudanya yang terkenal dalam perang daratan di Gurun Gobi dan Padang Pasir, kewalahan menghadapi perang pesisir dengan strategi gerilya Raden Wijaya. Padahal Pasukan Mongol ini, telah menghancurkan Baghdad, Dinasti Abbasiyah di Timur Tengah pada 1258, hingga Eropa (Rusia, Hongaria dan Romania) yang mereka kuasai 200 tahun lamanya. (Bersambung)

Kolom Komentar
CATEGORIES
TAGS
×

Powered by WhatsApp Chat

×
%d bloggers like this:
Enable Notifications    OK No thanks