Kemerdekaan dan Literasi (Catatan HUT ke-76 RI)

Oleh: Sofyan Togubu

(Ketua Komunitas Suara Pena Morotai)

Sejarah mencatat Bangsa Indonesia sudah mengalami penjajahan oleh bangsa-bangsa Eropa dan Jepang dalam waktu cukup lama. Dalam penjajahan itu pula, rakyat dipaksa untuk memenuhi kebutuhan penjajah hingga banyak korban.

Keinginan bangsa untuk memperjuangkan kembali hak-hak yang sudah direnggut. Sehingga, akhirnya pejuang berhasil merebut kemerdekaan dan menggelar proklamasi kemerdekaan pada 17 Agustus 1945.

Banyak refrensi salah satunya karya dari Nanda Cindy Hendaliani dengan judul melawan penjajah di era globalisasi diterbitkan dalam blog sekolah diterbitkan 2016 lalu. Dalam sepengal catatan itu mengungkapkan bahwa bangsa Indonesia masih dijajah oleh bangsa lain.

Bukan negara, bukan tanah air yang mereka jajah, namun hal-hal kecil lain yang tidak begitu diperhatikan. Seperti bahasa, budaya, teknologi, makanan, minuman, hingga pakaian yang setiap hari kita kenakan.

Hal-hal seperti ini bisa kita kembangkan dan dipahami lewat literasi. Secara umum literasi adalah kemampuan seseorang dalam mengolah dan memahami informasi saat melakukan proses membaca dan menulis.

Menurut Alberta, literasi ialah kemampuan membaca dan menulis, menambah pengetahuan dan ketrampilan, berpikir kritis dalam memecahkan masalah, serta kemampuan berkomunikasi secara efektif yang dapat mengembangkan potensi dan berpartisipasi dalam kehidupan masyarakat.

Dengan literasi kita bisa menjegah agar bangsa Indonesia tidak dijajah oleh bangsa lain lewat hal-hal kecil seperti dijelaskan diatas. Namun, kondisi saat ini literasi bisa dikatakan sangat minim. Seperti terlihat di Maluku Utara khususnya di Kabupaten Pulau Morotai

Tingkat minat baca masyarakat Kabupaten Pulau Morotai sangat memprihatinkan ini pernah diakui mantan Kadis Perpustakaan Daerah Kabupaten Pulau Morotai, Ridwan Bilo kala itu. Bahwa data minat pembaca dikantong perpustakaan Pulau Morotai sangat minim, hal ini tercatat sejak tahun 2018 melalui perpustakaan keliling.

Di tahun 2018 data di peroleh sumber dari pelayanan mobil perpustakaan keliling itu capai per tahun itu 2 ribu lebih pembaca dimana per bulan itu rata-rata sebanyak 208 orang berkunjung atau membaca. Sementara, per hari sebanyak 8-9 orang minat baca dari pada masyarakat di Pulau Morotai.

Fenomena sama juga tingkat mahasiswa. Juga dikategorikan sangat minim membaca. Seperti halnya dikatakan salah satu Akademisi Universitas Pasifik Morotai (Unipas) Amrin Sibua, sesuai data diperpustaakan Universitas Pasifik Morotai bahwa minat baca mahasiswa sangat minim.

Yang datang diperpustakaan tiap hari, ini hitungan per hari itu paling banyak tiga orang kunjungan mahasiswa ke perpustakaan. Padahal, koleksi buku cukup banyak yang sebetulnya bisa diakses dengan muda oleh mahasiswa. Tentu, jika minat membaca menurun juga akan berpengaruh pada tingkat menulis (literasi).

Padahal, budaya literasi bermanfaat dalam mewujudkan peran generasi muda dalam aspek pembangunan negara. Generasi muda memiliki kepribadian unggul dan mampu memahami pengetahuan serta teknologi untuk bersaing secara lokal dan global.

Selain itu, generasi muda menjadi faktor penting karena memiliki semangat juang yang tinggi, solusi yang kreatif, dan perwujudan yang inovatif. Oleh karena itu, dalam memperigati

perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-76 RI yang jatuh pada 17 Agustus 2021 nanti. Generasi lebih meningkatkan dunia literasi salah satunya membentuk komunitas dan kampanyekan literasi di tingkat sekolah dan dunia kampus agar dengan literasi bisa mencegah agar bangsa Indonesia tidak dijajah oleh bangsa lain lewat hal-hal kecil. (*)

Kolom Komentar
CATEGORIES
TAGS
×

Powered by WhatsApp Chat

×
%d bloggers like this:
Enable Notifications    OK No thanks