Pembeli Menurun, Bahan Baku Mahal, Perajin Bambu di Tongole ”Menjerit”

Pengrajin bambu di Tongole, Ternate. (Foto: Taslim/malutpost.id)

Ternate malutpost.id — Pandemi Covid-19 benar-benar memukul semua aspek kehidupan, termasuk dunia usaha produk dan jasa. Begitu pula yang dirasakan perajin perabot rumah tangga berbahan bambu di Kelurahan Tongole, Ternate Tengah. Bahkan, perajin tambah ”menjerit” karena di tengah menurunnya pembeli, bahan baku dari luar juga semakin mahal.

”Jeritan” perajin bambu itu disuarakan Asman Ali. Pria yang setiap hari mengolah aneka produk perabot rumah tangga berbahan bambu batik itu mengaku, minat pembeli produk kerajinannya menurun drastis semenjak pandemi Covid-19. “Sejak pandemi Covid-19, produk kami sulit menghasilkan uang. Kadang 3 sampai 4 bulan baru ada pesanan dari 1 atau 2 pembeli,” tutur Asman ketika ditemui MalutPost.id di rumahnya, Minggu (1/8/2021).

Baca:  Hindari Penularan Covid-19, HARITA Nickel Vaksinasi 6.000 Karyawan

Pria ini bersama 5 anaknya bekerja di rumah, menyelesaikan berbagai perabot rumah tangga. Dominan kursi, meja, rak, dan pajangan. Untuk menyelesaikan 1 set kursi tamu, dia dan anak-anaknya membutuhkan waktu selama 2 minggu.

Produk itu dibrandrol seharga Rp1,5 juta rupiah. “Kalau kursinya ditambah dengan rotan atau tali khusus untuk menutup lobang-lobang bambu, maka kita harus beli bahan dari luar. Hanya saja, saat ini bahan yang dibeli dari Surabaya itu semakin mahal. Sementara pembeli tidak ada,” tutur Asman.

Untuk produksi kursi dengan desain yang lebih rapi dan artistik, dia butuh modal lebih besar sehingga harus menunggu pesanan. Biasanya kursi set dengan dengan tambahan bahan rotan dan tali khusus itu dibandrol senilai Rp3,5 juta.

Baca:  Ketua Ombudsman Malut: Jangan Jadikan Vaksin Sebagai Syarat Pelayanan Publik

Sebelum pandemi Covid-19, kata Asman, karya kerajinan seperti kursi set, kursi panjang, meja, lampu hias, dan box bayi selalu dipesan dari para pelanggan. “Bukan hanya Ternate, ada pelanggan dari Jailolo, Sofifi, Tidore, Moti, dan bahkan Jakarta. Semenjak pandemi, para pelanggan itu belum melakukan pesanan. “Apalagi pelanggan dari Jakarta yang tentu terkendala dengan PPKM,” paparnya.

Meski sepi pembeli, perajin generasi ketiga dan anak-anaknya ini tetap memproduksi karya. Dia berharap saat pandemi usai, produknya bisa kembali dipesan.(mg-08)

 

_

Laporan: Taslim T. Laher
Editor: Ismit Alkatiri

Kolom Komentar
CATEGORIES
TAGS
×

Powered by WhatsApp Chat

×
%d bloggers like this:
Enable Notifications    OK No thanks