Kriminolog UI: Waspada..! Kejahatan Siber Marak di Masa Pandemi

Iluastrasi CyberCrime/Liputan6.com

Depok, malutpost.id – Dosen Departemen Kriminologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia Bhakti Eko Nugroho meminta masyarakat untuk waspada atas maraknya kejahatan siber di masa pandemi Covid-19. Modusnya, meminta sumbangan mengatasnamakan korban pandemi, pencurian data, dan pembobolan rekening. “Tindak kejahatan ini semakin masif dilakukan,” kata Bhakti Eko Nugroho dalam keterangannya, Jumat (30/7) seperti dikutip jawapos.com dari Antara.com.

Bhakti mengatakan hal tersebut dalam webinar yang diselenggarakan Satuan Tugas (Satgas) Penanganan COVID-19 bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dengan tema “Modus Baru Cyber Crime di Tengah Pandemi COVID-19”.

Kejahatan siber adalah segala aktivitas ilegal yang digunakan pelaku kejahatan dengan menggunakan teknologi sistem informasi jaringan komputer yang secara langsung menyerang teknologi sistem informasi dari korban. Namun secara lebih luas kejahatan siber bisa diartikan sebagai segala tindak ilegal yang didukung dengan teknologi komputer.

Baca:  Kemendes Pastikan Penyaluran BLT DD Tahap I di Malut Tuntas 100 Persen

“Target pelaku adalah device atau hardware atau software atau data personal dari korban. Sifat cyber crime adalah baik pelaku maupun korban sama-sama invisible atau tidak terlihat, hal ini yang membuat jenis kejahatan ini punya kompleksitas sendiri. Pelaku potensial dari cyber crime ini, dia bisa dari kelompok yang geologis ataupun kelompok yang berbisnis secara ilegal dan individu tertentu,” ujar Bhakti.

Bhakti menjelaskan keuntungan pelaku di aktivitas kejahatan siber adalah anonimitas pelaku dengan lebih mudah menyembunyikan identitas mereka, kemudian ketika pelaku melaksanakan kejahatan di ruang siber ada jeda waktu yang memungkinkan pelaku lebih leluasa untuk menghilangkan barang bukti agar mengecoh dan mencegah respons upaya-upaya yang dilakukan penegak hukum.

Baca:  Bus Damri Antardesa di Morotai Terbalik

Pengguna internet baik di dunia maupun di Indonesia setiap tahun semakin meningkat. Pandemi Covid-19 berdampak pada perubahan pola hidup masyarakat Indonesia yang cenderung lebih banyak mengandalkan internet. Tentunya ada sisi positif dari penggunaan internet yang tinggi, namun dari sisi negatifnya internet atau teknologi informasi ini menjadi “tools” (alat) baru yang digunakan pelaku kejahatan untuk merugikan orang lain.

Menurut data Polri pada bulan April 2020 sampai Juli 2021, setidaknya ada 937 kasus yang dilaporkan. Dari 937 kasus tersebut ada tiga kasus dengan angka tertinggi, yaitu kasus “provocative”, “hate content”, dan “hate speech” yang paling banyak dilaporkan, sekitar 473 kasus. Kemudian disusul penipuan online 259 kasus, dan konten porno 82 kasus.

Baca:  16 Lurah di Ternate Ancam Mogok Kerja

“Lalu mengapa angka kasus provocative, hate content, dan hate speech ini menjadi yang tertinggi, hal ini dipengaruhi residu politik di Indonesia yang terjadi beberapa waktu lalu baik pemilihan daerah maupun pemilu nasional yang mengakibatkan polarisasi pada masyarakat. Hal tersebut terbawa hingga saat ini di mana saat pandemi terjadi seharusnya masyarakat Indonesia bersatu untuk melawan wabah ini tetapi malah saling bertengkar dan menyalahkan satu sama lain,” kata Bhakti.

Selain itu, katanya, kepolisian sudah mengamankan pelaku yang menyebarkan informasi hoaks tentang pandemi Covid-19. Menurut Bhakti, para pelaku ini memanfaatkan dan mengambil keuntungan dari kerentaan, ketidakberdayaan, dan keterbatasan masyarakat selama pandemi Covid-19.

Sumber: JawaPos.com

Kolom Komentar
CATEGORIES
×

Powered by WhatsApp Chat

×
%d bloggers like this:
Enable Notifications    OK No thanks