Potensikan Tanaman Obat dan Rempah Malut di Pasar Ekspor

Ilustrasi rempah-rempah. (istimewa)

MALUKU Utara dikenal dunia sejak abad 16 lalu. Sebelumnya, rempah-rempah dari jazirat Al Mulk (sebutan negeri ini) sudah jadi perburuan pedagang Cina, Arab, dan Melayu. Namun, pada abad 16, nama Moluccas semakin tersohor seiring kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Selain misi perdagangan rempah, terutama cengkih dan pala, kedatangan bangsa-bangsa Eropa itu juga diikuti para ahli botani.

Tahun 1653, Georg Eberhard Rumpf ahli botani Jerman bisa sampai di Ambon. Ilmuan yang terkenal dengan buku Herbarium Amboinense itu, bahkan nekat mendaftar sebagai tentara Belanda agar bisa ke Maluku. Menyusul kemudian, Jacob Breyne, ahli botani Polandia. Sekitar 1670-an, Jacob Breyne datang ke Ternate dengan menumpang misi dagang VOC. Jacob menemukan spesies pertama bunga biru yang diberi nama Flos Clitoridis Ternatensibus dan berubah dengan nama ilmiah Clitoria ternatea.

Dari “magnet” rempah itu, Alfrets Russel Wallace datang ke Ternate tahun 1858 tinggal selama hampir 4 tahun. Naturalis Inggris itu berkeliling pulau-pulau di Moloku Kie Raha dan melakukan riset terhadap flora dan fauna. Tak luput pengamatan terhadap aneka tanaman berkhasiat.

Hari ini, ketika dunia dilanda pandemi Covid-19, ekonomi juga ikut terimbas. Tetapi di antara komoditas ekonomi itu, tanaman obat-obatan dan rempah-rempah justru mendongkrak nilai ekspor Indonesia. Data BPS menunjukkan, nilai ekspor hasil pertanian selama Januari-Mei 2021 mengalami kenaikan cukup tinggi. Naik sebesar 13,39 persen. Dan, kenaikan itu terjadi pada subsektor tanaman obat, produk olahan seperti rempah dan kopi, serta sarang burung wallet. Permintaan pasar luar negeri ternyata sangat tinggi.

Performa ekspor Indonesia yang demikian menggembirakan dan dipicu tanaman obat dan rempah itu, mestinya disambut gembira petani dan pengusaha pengolahan hasil pertanian Maluku Utara. Daerah ini memiliki kekayaan hayati yang tinggi. Sudah terbukti dan teruji hasil potensi hayati Moloku Kie Raha berkhasiat di tengah pandemi Covid-19. Selain rempah, begitu banyak tanaman berkhasiat kesehatan yang ditemukan di sekitar kita. Ada bunga Ternatea, Golobe, Jahe Merah, Kayu Manis, dan sebagainya.

Mestinya, pihak pengambil kebijakan di daerah ini untuk segera menyikapi serius kabar gembira tentang dinamika ekspor hasil pertanian tersebut. Pemerintah daerah baik provinsi maupun kabupaten/kota seyogianya tidak larut dalam kegamangan akibat refocusing anggaran dan menukiknya PAD sebagai efek pandemi Covid-19. Butuh komitmen, konsisten, dan kolaborasi dalam mengembangkan potensi sumber daya alam untuk menjawab kebutuhan pasar ekspor. Pengembangan potensi sumber daya alam hayati termasuk hasil pertanian pada umumnya, tidak saja menjadi penyumbang devisi namun memperkuat ekonomi rakyat karena efeknya langsung dirasakan oleh petani.

Salah satu indikator terlihat dari data BPS yang menunjukkan tingkat kemiskinan penduduk pedesaan Maluku Utara pada awal 2021 ini turun di saat-saat kesulitan ekonomi akibat pandemi Covid-19. Seperti diberitakan malutpost.id beberapa waktu lalu, penurunan angka kemiskinan itu, menurut pakar ekonomi Dr Muhktar Adam, juga dipicu oleh kenaikan harga komoditas pertanian.

Sayangnya, dalam konteks ekspor, Maluku Utara dominan dipicu sektor pertambangan. Data BPS menyebutkan, nilai ekspor Provinsi Maluku Utara pada Januari 2021 sebesar US$193,35 juta, mengalami peningkatan 31,13 persen dibanding Desember 2020 yang senilai US$147,45 juta. Dan, tingginya nilai ekspor itu terjadi pada sektor pertambangan. Pertanian khususnya subsektor tanaman obat, rempah, dan kopi tidak terbaca dalam data ekspor Maluku Utara.

Saatnya, Maluku Utara mempotensikan kembali sumber daya alam, khususnya tanaman obat dan olahan rempah-rempah sebagai bagian dalam upaya mendorong pemulihan ekonomi. Polda Maluku Utara melalui program Kampung Tangguh Kieraha telah memulai menyebarkan bibit tanaman herbal ke masyarakat pada medio Juni lalu. Bagaimana dengan pemprov dan pemerintah kanbupaten/kota? Ini sesungguhnya peluang di tengah pandemi Covid-19. (aba)

 

_

Penulis: Ismit Alkatiri

Kolom Komentar
CATEGORIES
TAGS
×

Powered by WhatsApp Chat

×
%d bloggers like this:
Enable Notifications    OK No thanks