Tambang dan Komoditas Pertanian Picu Penurunan Angka Kemiskinan di Malut

Mukhtar Adam. (istimewa)

Ternate, malutpost.id — Menurunnya tingkat kemiskinan di Maluku Utara pada Maret 2021 terutama di pedesaan karena karena survey dalam periode tersebut, kondisi ekonomi Malut dalam posisi mengalami aktivitas yang membaik.

Pakar Ekonomi, Dr Muktar Adam menyebut, pada kuartal 1 tahun 2021, ekonomi Malut tumbuh 13,45 persen. “Faktor pemicu utama, selain tambang, juga membaiknya komoditi masyarakat terutama kopra yang mencapai harga 12 ribu rupiah per kilogram, dengan indeks harga konsumen yang mengalami penurunan pasca Natal dan Tahun Baru, maka survei pada Maret jelas akan memberikan indikasi penurunan angka kemiskinan,” jelasnya kepada malutpost.id yang dihubungi via telepon Jumat (16/7/2021).

Dia berujar, kemiskinan pedesaan yang mengalami perbaikan sangat dipengaruhi oleh harga komoditas perkebunan, seperti kelapa, cengkih dan pala. “Jika tiga komoditas ini harganya membaik, kemiskinan akan mengalami penurunan.

Baca:  Akademisi Duga Ada Intervensi

Sebaliknya, menurtnya, di perkotaan yang ekonominya digerakkan oleh perdagangan dan jasa, mengalami keterpurukan. ”Ini karena sektor perdagangan mengalami pelambatan. Permintaan pada sektor jasa mengalami penurunan karena pendapatan masyarakat perkotaan yang terkoreksi akibat Pademi Covid-19. Dan, pembatasan sosial yang masih terus berlanjut akan makin mengurangi pengeluaran masyarakat perkotaan sehingga UMKM dan usaha informal lainnya akan mengalami penurunan. Dampak yg kemudian dirasakan kemiskinan perkotaan cenderung naik,” tambah akademisi Unkhair itu.

Dia mengatakan, kemiskinan perkotaan diprediksi makin parah pada kuartal 2 dan 3. “JIka PPKM masih terus berlanjut, maka kegiatan ekonomi perkotaan makin terkoreksi panjang,” pungkasnya.

BPS Pusat pada Februari lalu merilis tentang angka kemiskinan di Indonesia yang meningkat lebih dari 2,7 juta jiwa akibat pandemi Covid-19. Data itu dicatat BPS sebagai kenaikan pertama dalam beberapa tahun terakhir akibat virus corona. Penduduk yang masuk kategori miskin adalah yang pengeluarannya di bawah Rp460 ribu per orang atau Rp2,2 juta per keluarga per bulan.

Baca:  Pemuda Tarau Boikot Kantor Kelurahan, Minta Wali Kota Ganti Lurah

Seperti diketahui, Badan Pusat Statistik Malut mencatat tingkat kemiskinan pada Maret 2021sebesar 87.160 jiwa (6,89 persen). Sementara, pada September 2020 lalu jumlah penduduk miskin di provinsi ini tercatat sebesar 87.520 jiwa (6,97 persen). “Terjadi penurunan dari 6,97 persen menjadi 6,89 persen,” jelas Kepala Kepala BPS Malut Aidil Adha SE, ME seperti diberitakan malutpost.id, sebelumnya.

Tingkat penurunan angka kemiskinan di Malut pada periode Maret 2021 itu terjadi di pedesaan. Sementara di perkotaan, angka penduduk miskin mengalami kenaikan.(mg-08/aba)

 

_

Peliput : Taslim T. Laher

Editor   : Ismit Alkatiri

Kolom Komentar
CATEGORIES
TAGS
×

Powered by WhatsApp Chat

×
%d bloggers like this:
Enable Notifications    OK No thanks